Kamis, 17 Januari 2013

Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 14, 06 Robiul Awal 1434 H / 18 Januari 2013




Tanya-Jawab Seputar Wudhu Dan Tayammum
(Bagian 3)

“Bumi seluruhnya telah dijadikan untukku dan untuk umatku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci. Di mana pun seseorang dari umatku mendapati waktu sholat, maka disitulah masjidnya dan alat bersucinya” (Hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dari jalur ‘Amru bin Su’aib dari ayahnya dari kakeknya).

A. Latar Belakang

Buletin Gerbang Muhlisin edisi kali ini merupakan kelanjutan dari edisi sebelumnya tentang tanya-jawab seputar wudhu dan tayammum.

B. Tanya-Jawab Seputar Wudhu Dan Tayammum

3. Pertanyaan: “Apakah tanah yang digunakan untuk tayammum harus tanah yang langsung berasal dari permukaan bumi (tidak boleh dari debu yang menempel di kursi atau dinding) ?”

Jawaban:

Penjelasan mengenai kondisi-kondisi apa saja yang membolehkan seorang muslim untuk bertayammum dan tata cara tayammum telah kami uraikan pada Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 9 (30 Muharrom 1434 H/14 Desember 2012), sedangkan dalil disyariatkannya tayammum adalah Qur’an Surat Al-Maa’idah [5] Ayat 6 dan Surat An-Nisaa’ [4] Ayat 43 serta hadits berikut ini:

“Bahwasanya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air (selama) sepuluh tahun.” (Hadist shohih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ada 2 (dua) pendapat ulama tentang tanah yang boleh digunakan untuk bertayammum, yaitu:

a) Pendapat pertama, tanah yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah permukaan bumi secara mutlak, baik pasir, gunung, kerikil, batu, kapur, marmer maupun tanah. Ini adalah pendapat madzab Abu Hanifah, Abu Yusuf, Malik dan Ibnu Taimiyah. Dalilnya adalah Qur’an Surat Al-Kahfi [18] Ayat 8 dan Ayat 40 serta hadits-hadits berikut ini:

“Manusia dikumpulkan pada Hari Kiamat di satu tanah.” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim).

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya sendiri dan Abdulloh bin Yasar, bekas budak Maimunah, isteri Nabi pergi hingga kami sampai di (rumah) Abu Juhaim bin al-Harist bin ash-Shimah al-Anshori. Lalu Abu Juhaim mengatakan, “Nabi datang dari arah sumur Jamal (daerah di dekat kota Madinah), lalu bertemu dengan seorang sahabat, kemudian mengucapkan salam kepadanya. Namun Nabi belum menjawabnya sebelum mendekat ke tembok, (setelah menepukan kedua tapak tangannya pada tembok). Lalu beliau mengusap wajahnya dan kedua tangannya, kemudian menjawab salamnya.” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim).

b) Pendapat kedua, tanah yang boleh digunakan untuk tayammum haruslah berasal dari permukaan bumi secara langsung. Ini adalah madzab asy-Syafi’i, Hanabilah, Abu Tsaur dan Ibnu al-Mundzir. Dalilnya adalah hadits-hadits berikut ini:

“Bumi telah dijadikan untukku sebagai masjid [dan tanahnya dijadikan untukku sebagai alat untuk bersuci].” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. Namun tambahan “…dan tanahnya dijadikan untukku sebagai alat untuk bersuci.” diperselisihkan oleh para ulama dan yang benar adalah tanpa tambahan tersebut).

“Telah diberikan kepadaku apa yang tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi sebelumku: aku ditolong dengan ketakutan (yang menghinggapi musuhku), aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi, aku diberi nama Ahmad, dan tanah dijadikan untukku sebagai alat bersuci, dan umatku dijadikan sebagai sebaik-baik umat.” (Hadits munkar diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi).

Pendapat yang lebih rojih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan bahwa boleh bertayammum dengan segala sesuatu yang disebut permukaan bumi, atau sesuatu yang terdapat pada bumi, seperti debu dan sejenisnya. Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa tanah yang digunakan untuk tayammum haruslah tanah yang langsung berasal dari permukaan bumi perlu dikoreksi dari 2 (dua) aspek, yaitu:

1) Tidak adanya dalil shohih yang digunakan untuk menopang pendapat tersebut.

2) Kata “turbah” dan “turab” berbeda maknanya, jika turab bermakna tanah, sedangkan turbah bermakna bumi, sebagaimana hadits dari Abu Hurairoh yang diriwayatkan oleh Muslim: “Rosululloh memegang tanganku seraya berkata, Alloh menciptakan Turbah pada hari Sabtu.” Dalam Lisan al-Arab disebutkan “Alloh menciptakan Turbah pada hari Sabtu,’ maksudnya adalah bumi.”

Dalam realitas kehidupan seringkali kita sulit menjumpai tanah yang langsung berasal dari permukaan bumi. Ketika kita sedang berpergian menggunakan bus, pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api, tidaklah mungkin bagi kita untuk menghentikan laju kendaraan hanya untuk mengambil tanah guna tayammum. Alloh tidak menghendaki kesukaran bagi mahluk-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Qur’an Surat Al-Baqoroh [2] Ayat 185: “Alloh menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” Jadi menurut hemat kami, bertayammum menggunakan debu yang menempel di kursi, dinding maupun benda padat lainnya diperbolehkan. Dengan syarat kursi, dinding maupun benda padat lainnya tersebut suci atau terbebas dari najis. Macam-macam benda najis telah kami uraikan pada Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 13 (28 Safar 1434 H/11 Januari 2013). Wallohu a’lam.

Sumber:

Badawi Al-Khalafi, Abdul Azhim. 2008. Al-Wajiz, Pustaka as-Sunnah, Jakarta, Halaman 122

Qaradhawi, Yusuf. 2004. Fikih Thaharah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Halaman 344-347

Sayyid Salim, Abu Malik Kamal. 2009. Shahih Fiqih Sunah Jilid 1, Pustaka at-Tazkia, Jakarta, Halaman 248-273

Download file pdf Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 14, 06 Robiul Awal 1434 H / 18 Januari 2013 http://www.scribd.com/doc/120780068/Buletin-Gerbang-Muhlisin-Edisi-14-06-Robiul-Awal-1434-H-18-Januari-2013

Tampilan Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 14, 06 Robiul Awal 1434 H / 18 Januari 2013



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar