Jumat, 01 Februari 2013

Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 16, 20 Robiul Awal 1434 H / 1 Februari 2013

Tata Cara Sholat Sesuai Tuntunan Rosululloh

“Apabila kamu telah selesai sholat, maka ingatlah kepada Alloh, sewaktu berdiri, duduk dan berbaring. Kemudian kalau sudah amat tenteram, maka kerjakanlah sholat itu (sebagaimana biasa), sesungguhnya sholat itu diwajibkan kepada orang-orang yang mukmin, dengan tertentu waktunya.” (Qur’an Surat An-Nisaa’ [4]: Ayat 103).

A. Latar Belakang

Setelah mengulas tata cara wudhu dan tayammum sesuai tuntunan Rosululloh dan menjawab beberapa pertanyaan seputar wudhu dan tayammum pada beberapa edisi sebelumnya, Buletin Gerbang Muhlisin edisi kali ini dan beberapa edisi mendatang akan mengulas tentang tata cara sholat sesuai tuntunan Rosululloh dan juga akan menjawab beberapa pertanyaan seputar sholat.

B. Tata Cara Sholat Sesuai Tuntunan Rosululloh

1. Berdiri Tegak

Berdiri tegak hukumnya wajib bagi setiap orang yang mampu melaksanakannya. Sesuai dengan hadits berikut ini: 

“Saya menderita sakit wasir, maka saya menanyakan kepada Nabi Shollallahu alaihi wa salam tentang (caranya) sholat. Maka Beliau menjawab: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak kuat maka duduklah, dan manakala tidak kuat maka dengan cara berbaring.” (Hadits diriwayatkan oleh Bukhori).

Berdiri tegak yang dimaksud adalah:

a. Menghadapkan seluruh badan dan wajah ke arah qiblat (bukan tepat ke arah Barat, namun ke arah Ka’bah di Mekah karena jika kita yang berada di Indonesia menghadap tepat ke arah Barat, maka sebenarnya kita menghadap ke Afrika, bukan ke arah Ka’bah di Mekah. Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia, arah ke qiblat jika dari Indonesia adalah arah ke Barat Laut).

b. Pandangan mata diarahkan ke tempat sujud (tempat diletakannya dahi ketika sujud) dan harus dijaga jangan sekali-kali menengok ke kanan dan ke kiri atau ke atas dan ke bawah.

c. Kedua belah kaki direnggangkan tidak terlalu renggang, dengan jarak kira-kira satu jengkal tangan.

2. Membaca Takbirotul Ihrom

Takbirotul Ihrom adalah takbir untuk memulai sholat, yaitu mengucapkan: “Allohu Akbar”, dengan niat ikhlas semata-mata menunaikan ibadah sholat karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Tidak perlu mengucapkan niat secara lisan ketika hendak sholat karena memang tidak dituntunkan oleh Rosululloh. Bersamaan dengan takbirotul Ihrom, kedua belah tangan diangkat sejurus dengan bahu dan mensejajarkan ibu jari dengan daun telinga serta diteruskan dengan meletakan tapak tangan kanan di atas punggung tapak tangan kiri lalu menempatkan keduanya tepat di atas dada (ulu hati). Sesuai dengan hadits-hadits berikut ini:

a. Menurut hadits shohih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi: 

"Kunci (pembuka) sholat itu wudhu, permulaannya takbir dan penghabisannya salam". Dan hadits shohih dari Ibnu Majah yang dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadits Abi Humaid Sa'idi bahwa “Rosululloh, jika sholat ia menghadap ke qiblat dan mengangkat kedua belah tangannya dengan membaca ‘Allahu Akbar". Dan menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Musli : "Bila kamu menjalankan sholat, takbirlah”.

b. "Sesungguhnya (sahnya) amal itu tergantung kepada niat." (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim)

c. Menurut hadits Ibnu Umar bahwa “Rosululloh mengangkat kedua tangannya selurus bahunya bila ia memulai sholat, bila takbir hendak ruku' dan bila mengangkat kepalanya dari ruku' ia mengangkat kedua tangannya juga dengan mengucapkan "Sami'allo-hu liman hamidah robbana-wa lakalhamd". Dan tidak menjalankan demikian itu dalam (hendak) sujud.” (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim). Tersebut dalam shohih Muslim dari Malik bin Huwarits, bahwa “Rosululloh apabila takbir ia mengangkat kedua tangannya sampai sejajar pada telinganya, begitu juga bila hendak ruku', dan bila mengangkat kepalanya dari ruku' lalu mengucapkan:"Sami'allo-hu liman hamidah", ia mengerjakan demikian juga.” Dan dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Wail dengan kalimat: "Sehingga kedua tangannya itu selempang dengan bahunya serta ibu jarinya sejajar dengan telinganya."

d. Hadits shohih dari Wail yang berkata: "Saya sholat bersama Rosululloh dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di atas dadanya". (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishohihkannya). Dan hadits dari Wail juga menurut riwayat Abu Dawud dan an-Nasa'i "Lalu beliau meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kirinya, serta pergelangan dan lengannya". (Hadist ini dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya, sedang asalnya dalam shohih Muslim, dengan tidak ada tambahannya, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Fath juz II halaman 152). Hadits dari Sahl bin Sa'ad yang berkata: "Bahwa orang-orang diperintah supaya meletakkan tangan kanannya pada lengannya." (Diriwayatkan oleh Bukhori).

3. Membaca do’a iftitah

Do'a iftitah: "Allo-humma ba-'id baini-wa baina khotho-yaya kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Allo-humma naqqini-minal khotho-ya- kama-yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allo -hummaghsil khotho -yaya bilma-i wats tsalji wal barod." 

Wallohu a’lam. [Bersambung]

Sumber:

Http://tarjih.muhammadiyah.or.id/download-manhaj.html

Pasha, Musthafa Kamal, Chalil, M.S., Wahardjani. 2003. Fikih Islam Sesuai Dengan Putusan Majelis Tarjih, Citra Karsa Mandiri, Yogyakarta, Halaman 43-46

Donwload file pdf Buletin Gerbang Muhlisin Edisi 16, 20 Robiul Awal 1434 H / 1 Februari 2013 http://www.scribd.com/doc/123429090/Buletin-Gerbang-Muhlisin-Edisi-16-20-Robiul-Awal-1434-H-1-Februari-2013



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar