Kamis, 06 Desember 2012

Buletin Jum'at Gerbang Muhlisin Edisi 8, 23 Muharrom 1434 H / 07 Desember 2012

Dakwah Dan Politik

“Elections and the democratic processes that have taken root since 1999 have shown several important things: first, Islamic parties that run on a religious platform and that propose implementing Islamic values nationally win a preponderance of votes in 2004 election. Secondly, the parliamentary members of Islamic parties to some extent have better moral reputation than the member of liberal and secular party. Thirdly, the Islamic parties win the election of several governors and the head of sub-regions.” Terjemahan bebas: “Pemilihan umum dan proses demokrasi yang telah bermula sejak tahun 1999 memperlihatkan beberapa hal penting: pertama, partai-partai Islam yang mengusung isu-isu agama dan mempromosikan penerapan nilai-nilai Islam memperoleh kemenangan yang cukup memadai pada pemilihan umum tahun 2004. Kedua, anggota-anggota parlemen yang berasal dari partai-partai Islam pada tataran tertentu memiliki reputasi moral yang lebih baik daripada anggota dari partai liberal dan sekuler. Ketiga, partai-partai Islam memenangkan beberapa pemilihan gubernur dan bupati.” (Hamid Fahmy Zarkasyi, PhD., The Rise of Islamic Religio-Political Movement in Indonesia, Its Background, Present Situation and Future, Makalah yang dipresentasikan di Symposium on Asia and Islam, Organized by the Japan Institute of International Affairs (JIIA) and the Institute of Islamic Understanding Malaysia (IKIM), October 15th – 16th, Tokyo, 2008: 30)

A. Latar Belakang

Umat Islam di Indonesia, terutama para ulamanya sudah sangat kenyang dengan lika-liku politik. Sejak awal Republik Indonesia ini didirikan, para ulama telah berperan secara aktif menyusun dasar-dasar negara, ambil saja contohnya Kyai Haji Bagus Hadikusomo dan Mr. Kasman Singodimedjo dari Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau berdua bersama-sama dengan tokoh-tokoh Islam lainnya berupaya untuk mengarahkan agar nilai-nilai Islam dapat menjadi jiwa dasar negara Republik Indonesia. Begitu pula periode-periode sesudahnya, tidak sedikit ulama dan tokoh Islam yang aktif dalam bidang politik. Jadi umat Islam di Indonesia bukanlah umat yang awam dalam bidang sejarah dan politik.

Pertanyaannya adalah apa manfaat yang diperoleh umat Islam dari aktivitas para ulama dan tokohnya dalam bidang politik selama ini ?. Realitas politik hari-hari ini justru sepertinya menyanggah pernyataan positif dari Hamid Fahmy Zarkasyi. Partai-partai Islam atau yang mencitrakan sebagai partai Islam menurut beberapa survei akan mengalami penurunan jumlah suara yang cukup signifikan pada pemilihan umum tahun 2014 nanti. Moral para pejabat Islam pun tak lebih baik daripada orang-orang sekuler, tidak sedikit anggota partai Islam yang terjerat perkara hukum. Rakyat pun tampaknya telah enggan memilih pemimpin berdasarkan agamanya sebagaimana yang dibuktikan pada pemilihan umum kepala daerah DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. 

B. Politik Bukanlah Faktor Utama

Entah mengapa ada pemahaman yang tersebar luas di kalangan umat Islam bahwa politik adalah medan juang yang perlu untuk dimenangkan oleh umat Islam. Berbagai siasat politik pun dilaksanakan demi untuk meraih perhatian dari rakyat dan untuk merengkuh kekuasaan sebesar-besarnya. Kadang siasat tersebut bahkan mengakibatkan permusuhan di antara partai Islam, merusak ukhuwah Islamiyah.
Padahal Rosululloh ketika pertama kali menyampaikan ajaran Islam, beliau bukanlah penguasa politik di Mekah, namun beliau mampu melahirkan tokoh-tokoh pejuang Islam yang luar biasa, seperti Sayyidina Abu Bakar Ash-Shidiq, Amirul Mukminin Umar Ibn Khothob, Imam Ali Ibn Abi Tholib, serta para pejuang Islam lainnya. Rosululloh melakukannya dengan jalan dakwah, mengajak pada kebaikan dan melawan kebatilan. Rosululloh menanamkan tauhid yang kuat, menghujam ke dalam sanubari, memperkokoh keimanan dan memberikan suri tauladan yang baik, melembutkan sikap. Dari dakwah tersebut ajaran Islam tersebar ke seantero jagad.

Bahkan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Api Sejarah yang diterbitkan oleh Salamadani, Cetakan V tahun 2012, halaman 99-103 mengungkapkan bahwa menurut teori Mekah yang dipopulerkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dan teori maritim yang dipopulerkan oleh N.A. Baloch, ajaran Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang dari Arab pada abad 7 Masehi atau 1 Hijriah. Jadi Islam masuk ke Indonesia juga bukan karena politik, bukan karena ekspedisi militer, namun melalui para pedagang dari Arab yang mereka selain berdagang juga berdakwah, menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat, terutama yang tinggal di pesisir.

C. Politik Sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Umat Islam tentu harus memiliki kekuasaan dan pengaruh yang memadai agar kepentingan umat Islam dapat dilindungi, namun menjadikan politik sebagai tujuan adalah motivasi yang keliru. Politik adalah salah satu sarana untuk meraih kekuasaan dan pengaruh, merupakan cara yang dapat diupayakan, namun bukan merupakan kewajiban agama yang melekat pada diri setiap muslim (fardhu ‘ain).

Tentu sangat tidak diharapkan jika muballigh lebih tertarik membicarakan masalah politik daripada masalah agama. Tentu sangat disayangkan jika masih ada di antara jamaah yang tata cara sholatnya belum sesuai dengan tuntunan Rosululloh, namun luput dari pengamatan muballigh karena muballigh yang bersangkutan lebih mencurahkan segala perhatiannya pada masalah-masalah politik. 

Tata cara sholat yang benar sesuai tuntunan Rosululloh, membaca Qur’an secara benar, puasa, dan zakat adalah hal-hal mendasar yang seharusnya menjadi perhatian para muballigh. Apa artinya negara Islam dapat didirikan, namun rakyatnya tidak tahu cara sholat yang benar sesuai tuntunan Rosululloh, rakyatnya enggan puasa, enggan berzakat, jauh dari Qur’an dan Sunah. 

Jika harus memilih antara berdakwah atau berpolitik, seharusnya para muballigh lebih mendahulukan dakwah. Hal ini bukan berarti politik tidak penting, namun umat Islam seharusnya lebih dahulu diarahkan untuk mengutamakan pemahaman yang benar atas ajaran Islam. Hal-hal mendasar seperti tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh haruslah menjadi perhatian utama muballigh daripada menyusun siasat untuk meraih jumlah suara sebanyak-banyaknya pada pemilihan umum. Wallohu a’lam.

Download file pdf Buletin Jum'at Gerbang Muhlisin Edisi 8, 23 Muharrom 1434 H / 07 Desember 2012 http://www.scribd.com/doc/115758323/Buletin-Jum-at-Gerbang-Muhlisin-Edisi-8-23-Muharrom-1434-H-07-Desember-2012



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar